Manusia dan Manusia
Manusia dan Manusia.
Melihat apa yang terjadi pada dinding-dinding media sosial di Indonesia belakangan ini membuat saya menjadi berfikir. Mengapa kita senang sekali bertengkar akibat perbedaan ? Sepertinya berbeda menjadi sesuatu yang salah dan tidak dibenarkan oleh kemanusiaan. Misalnya saja perbedaan dalam pilihan politik. Di Indonesia saat ini sedang memasuki bulan-bulan politik, tensi tinggi yang ada di dinding media sosial menjalar sampai bilik rumah tangga bahkan ada kisah yang sampai ketelinga bahwa ada suami istri yang pisah ranjang karena perbedaan politik dikontestasi yang lalu. Aih~ menyeramkan sekali.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin membicarakan tentang politik tetapi lebih ingin menjawab apakah benar kita sebagai manusia memang tidak suka yang berbeda-beda ? Apakah dalam alam bawah sadar kita keteraturan dan kesamaan merupakan sesuatu yang paripurna sehingga hal tersebut wajib kita usahakan ?
Untuk menjawab pertanyaan saya ingin merujuk kepada salah satu buku yang membuat saya terkesima judulnya Sapiens karya Yuval Noah Hariri, ahh saya rasa kalian wajib membaca buku itu lagi pula buku itu tidak terlalu sulit untuk dipahami. Bagi kalian yang masih duduk dibangku sekolah buku itu akan menjadi buku pengantar yang sangat bagus untuk pelajaran sejarah. Lanjut kedalam pembahasan, untuk menjawab pertanyaan itu saya akan menjawab iya. Mengapa begitu ? Setelah kita dilahirkan didunia ini kita sudah diajarkan oleh Tuhan untuk meniru, meniru kebiasaan orang tua kita bukan ? mulai dari berjalan, cara makan, gaya tidur, bahkan cara berfikir semua kita akan tiru. Orang tua kita tentu akan senang sekali jika kita anaknya dapat melakukan hal yang sama dan serupa dengan mereka bukan ? perbedaan-perbedaan dalam tahapan ini akan dianggap sebagai kelaian, disfungsional, dll misalnya saja ketika kita tidak bisa meniru menyebutkan huruf "r" maka kita akan dicap sebagai anak yang cadel, atau ketika kita lebih memilih menggunakan tangan kiri untuk sebagian besar kegiatan kita akan dicap sebagai anak yang "kidal". ya semua yang berbeda akan dianggap sebagai kelainan.
Manusia sepertinya tidak suka sesuatu yang berbeda ungkapan-ungkapan hinaan terhadap yang berbeda tumbuh subur dalam pilihan kata kita bukan, seperti dua contoh yang sering kita pakai dalam berinteraksi. Ungkapan hinaan merupakan bentuk yang menurut saya masih soft. Ada lagi usaha manusia untuk penyamarataan yang saya anggap sebagai usaha yang lebih keras dari pada penciptaan kata hinaan itu yaitu dengan kekerasan. Menurut kalian mengapa dalam sejarah hidup manusia banyak terjadi pertumpahan darah ? Saya rasa kekerasan atau bahkan perang adalah usaha manusia dalam penyeragaman. ambil saja contoh Hitler misalnya, kita semua tau dia kan ? Manusia yang sangat ambisius dalam hal penyeragaman. Hitler ingin agar kita semua berfikir sama sepertinya bahwa Bangsa Arya adalah yang terbaik dan yang paling unggul. Untuk tujuan itu dia memulai sebuah kampanye panjang, kampanye kekerasan di Eropa. Uang, kejayaan, perempuan hanyalah variabel tambahaan yang terpenting adalah keinginan dalam keseragaman.
Perang mungkin tidak begitu familiar di telinga kalian karena syukur kepada Tuhan kita hidup dalam waktu dan tempat yang damai. Kalau itu yang kalian rasakan maka mari kita menjadi lebih teliti lagi untuk melihat, ah ternyata begitu banyak tempat-tempat penyeragaman disekitar kita. Ambil contoh misalnya sekolah. Sekolah dengan segala caranya berusaha untuk membuat kita menjadi seragam misalnya saja dalam penggunaan baju di sekolah kita manut dan patuh tentang ketentuan ini bukan ; kalau senin pakai putih-putih, selasa putih merah/biru/abu-abu dst. Itu baru usaha fisik, belum lagi usaha sekolah untuk menyeragamkan pemikiran. Sekolah merupakan garda terdepan dalam penyeragaman pandangan tentang dunia atau kita bisa menyebutnya sebagai nilai, misalnya saja ; kita diajarkan untuk membenci dan membuang opsi untuk menjadi penganut komunisme. Ada banyak alasan yang digelontorkan mulai dari alasan religiusitas sampai kepada alasan politik.
Contoh lain yang saya rasa kita semua (pernah) menerimanya sebagai kebenaran adalah betapa pentingya "skor" dalam menilai kemanusiaan, misalnya saja Si Budi mendapatkan "skor" 30/100 dalam pelajaran matematika maka yasudah tidak perlu kita pikir panjang untuk memberikannya predikat sebagai "anak bodoh." Padahal kita tidak tau bagaimana logikanya dalam kehidupan nyata, bagaimana kemampuannya dalam memecahkan masalah seperti membuka bungkus Chuba yang ngeyel untuk dibuka atau bagaimana dia mengatasi sendal yang putus. Semua itu tidak pernah kita lihat bukan untuk menilai kemampuan logikanya ?
Jadi wajarlah menurut saya jika kita suka akan keseragaman, kesamaan, dan keajegkan. Kita sudah seperti itu sepertinya. Ah silahkan saja kalau kalian ada ide lain untuk masalah ini.
Perang mungkin tidak begitu familiar di telinga kalian karena syukur kepada Tuhan kita hidup dalam waktu dan tempat yang damai. Kalau itu yang kalian rasakan maka mari kita menjadi lebih teliti lagi untuk melihat, ah ternyata begitu banyak tempat-tempat penyeragaman disekitar kita. Ambil contoh misalnya sekolah. Sekolah dengan segala caranya berusaha untuk membuat kita menjadi seragam misalnya saja dalam penggunaan baju di sekolah kita manut dan patuh tentang ketentuan ini bukan ; kalau senin pakai putih-putih, selasa putih merah/biru/abu-abu dst. Itu baru usaha fisik, belum lagi usaha sekolah untuk menyeragamkan pemikiran. Sekolah merupakan garda terdepan dalam penyeragaman pandangan tentang dunia atau kita bisa menyebutnya sebagai nilai, misalnya saja ; kita diajarkan untuk membenci dan membuang opsi untuk menjadi penganut komunisme. Ada banyak alasan yang digelontorkan mulai dari alasan religiusitas sampai kepada alasan politik.
Contoh lain yang saya rasa kita semua (pernah) menerimanya sebagai kebenaran adalah betapa pentingya "skor" dalam menilai kemanusiaan, misalnya saja Si Budi mendapatkan "skor" 30/100 dalam pelajaran matematika maka yasudah tidak perlu kita pikir panjang untuk memberikannya predikat sebagai "anak bodoh." Padahal kita tidak tau bagaimana logikanya dalam kehidupan nyata, bagaimana kemampuannya dalam memecahkan masalah seperti membuka bungkus Chuba yang ngeyel untuk dibuka atau bagaimana dia mengatasi sendal yang putus. Semua itu tidak pernah kita lihat bukan untuk menilai kemampuan logikanya ?
Jadi wajarlah menurut saya jika kita suka akan keseragaman, kesamaan, dan keajegkan. Kita sudah seperti itu sepertinya. Ah silahkan saja kalau kalian ada ide lain untuk masalah ini.
Komentar
Posting Komentar