Sebuah Permulaan
Sebuah Permulaan
Selamat datang para pembaca. Saya tidak begitu yakin kalian akan menemukan apa yang kalian cari disini karena ini barulah permulaan, permulaan dari sebuah kebiasaan yang akan saya mulai yaitu menulis. Sampai saat ini saya belum begitu yakin akan dikonsentrasikan kemana blog ini jadi mohon bersabar. rencana yang terlintas saat ini adalah menjadikannya catatan harian yang tidak begitu penting dan mungkin tidak begitu menarik untuk orang lain baca. Ya biarkan saja toh tujuan pembuatan ini adalah menumbuhkan kebiasaan.
Ada alasan keren lain yang terlintas dipikiran, yaitu menjaga agar diri ini terus abadi. Bukan maksud ingin melawan kehendak Tuhan bahwa mati adalah hak segala mahkluk, bukan ! Dari pada dituduh melawan kodratnya saya lebih suka dilihat sedang menjalankan perintahnya yang esensial yaitu BERUSAHA. Ya berusaha, berusaha untuk abadi bukan hal baru kan, ini sudah dikenal sejak manusia sadar betapa lemahnya mereka kan ? lihat saja film-film Tiongkok yang berlatar belakang kekaisaran banyak diantaranya membawakan cerita untuk mencari obat awet muda, air suci panjang umur, dan segala macam benda-benda yang menjanjikan keabadian, atau kalau kamu malas menonton film Tiongkok karena dilarang sama orang tua dengan alasan "hati-hati itu proses Cinanisasi" yasudah kamu nonton saja Pirate of the Caribbean : Dead Men Tell no Tales.
Begitu banyak usaha manusia untuk mencapai keabadian, menyebrangi laut dan membelah belantara hutan tapi sepertinya kita lupa ada satu hal yang dekat dan bisa kita usahakan, apa itu yaitu menulis. Kok begitu ahh saya juga belum punya ide bagaimana menjelaskannya kepada kalian tetapi kalian bisa menonton sebuah film yang mungkin bisa menjelaskan maksud saya film itu berjudul Transcendence dalam film itu dijelaskan bahwa tokoh utamanya Dr. Will Caster mati secara fisik tetapi pikirannya tidak mati dia tersimpan dalam database komputer, hal ini membuat saya menyimpulkan bahwa Dr. Caster tidak mati dia abadi.
Tentu kita tidak perlu membuat komputer maha canggih untuk dapat menyimpan pikiran kita agar tetap abadi. Kita si pemimpi yang kere ini bisa menulis, ya menulis ! kata Mbah Pram menulis itu pekerjaan untuk keabadian, dan sepertinya saya setuju dengan itu. Bagaimana tidak dia mencontohkan sendiri apa yang dia katakan. Kalian bisa bertemu dengan Pram walaupun secara fisik dia sudah pulang kepada Tuhan tetapi idenya masih hidup kita seakan bisa terus menerus mendengar Pram berbicara kepada kita "bersikap adillah sejak dalam pikiran." Ah~ Mbah kau akan selalu abadi. Atau tentang Plato dan Aristoteles, astaga siapa dua orang itu ? melihat wajahnya saja tidak pernah mereka hidup berabad-abad lampau tetapi kita sampai saat ini, sabdanya tetap menggema kemana-mana. Keabadian untuk yang menulis !
Karena saya juga manusia yang tidak luput dari ambisi keabadian maka dari itu saya menulis. Ya begitulah alasan yang bisa saya katakan kepada para pembaca, saya menulis belum untuk berkontribusi kepada peradaban. Bukannya tidak mau tetapi karena ini adalah permulaan maka eksistensi diri adalah yang utama bukan ?
Kata orang bijak di Timur "temukan dirimu sendiri baru kau akan menemukan orang lain."
Komentar
Posting Komentar