Surat Penggemar

Surat dari Penggemar


Kalau aku ditanya siapakah seniman paling romantis, maka aku akan menjawab Engkau Tuhan. Bukan aku sedang menghinaMu karena menyandingkanMu dengan seniman yang kadang jarang mandi dan tidak peduli penampilan, bukan ! tapi aku tidak habis pikir bagaimana diri Mu berpuisi dengan alam semestanya hanya untuk membuat kami mengenyitkan dahi dan berkata dalam hati “Jancuk, bener juga yak !” jika melihat hari ini dengan menggunakan perhitungan bulan merupakan hari yang sangat istimewa.

Bagaimana tidak, Tuhan di surga pasti sedang hidmat-hidmatnya membacakan puisi kesemestaan, puisi tentang peringatan, puisi yang mengajak kekasihnya untuk tetap menjadi manusia agar selalu dekat dengannya. Hari ini. Iya hari ini 10 dzulhijjah. Tuhan berpuisi melalui kisah Ibrahim dan Ismail.

Engkau karuniakan akal kepada kami tentu bukan ingin membuat kami menjadi jumawa dan akhirnya merusak alam, bukan ! tapi sepertinya Engkau ingin agar kami mengerti puisi yang sedang Engkau mainkan, iya kan ? Puisi yang penuh dengan simbol-simbol. Izinkan kami mencoba baca bersama puisi hari ini.

Sebentar lagi akan banyak hewan ternak yang minggat dari dunia ini, mereka akan disembelih untuk nantinya dibagikan kepada tetangga dan saudara yang membutuhkan. Tapi tunggu dulu, kami bertanya-tanya kenapa harus hewan ternak yang disembelih ? kenapa tidak daun katuk saja yang kami potong, atau toge yang kami potek agar semua orang bisa berkurban ? 

Ahh Tuhan, Engkau memang pencipta puisi yang paling romantis. Kenapa hewan yang harus disembelih, saya rasa Engkau sedang kode sama kami layaknya kekasih yang genit. Engkau mungkin ingin memberi tau kepada kami agar bukan hanya hewan ternak saja yang harus minggat dari dunia ini, tetapi yang terpenting adalah agar sifat hewan yang menempel juga harus minggat dari diri kekasihnya. Kami merasa diajak dengan penuh kasih untuk tetap menjadi manusia, dengan menyuruh kami memenggal sifat rakus, dengki, sombong, tidak tau diri, pelupa, dan malas (ah~ jadi inget novel animal farmnya George Orwell)

Kami mungkin lupa bahwa kehewanan yang ada didalam diri ini adalah mahkluk yang paling berbahaya, ini yang menyebabkan banyak petani kehilangan ladang dan sumber air mereka seperti halnya di Kandeng dan Kulon Progo, banyak juga nelayan yang kehilangan lautnya karena kita menimbunnya dengan pasir seperti yang terjadi di Utara Jakarta, atau juga banyak masyarakat adat yang kehilangan hutannya karena kita bersikukuh untuk membuat mereka memakan beras seperti kebanyakan seperti yang terjadi di Merauke.

Ah~ Tuhan kami mendengar puisi mu. Tapi kami tidak tau apakah akan sanggup untuk menjadi manusia atau tidak. Kepada Tuhan, kami memohon kepada Mu berikan kami kekuatan dan ampunanMu.

Salam kasih dan cinta dari kekasihMu yang hina

Manusia bernama Rizki Ade Putra.

Komentar