Surat untuk Midah si Manis Bergigi Emas.





Tulisan ini aku tunjukan kepada "Midah" sahabat semua manusia dan juga kepada kamu yang sedang jatuh cinta. Jika kamu mengharapkan tulisan ini akan memuat analisis dalam novel tersebut dengan teori sosial dan sastra maka sebaiknya kamu tutup saja surat ini karena saya takut kamu akan patah hati huehue~ Midah si Manis Bergigi Emas begitu judul novel ini, menceritakan seorang anak manusia bernama Midah dan perjalanan cintanya. Jangan pikirkan cinta yang dimaksud adalah cerita cinta yang bersemi di putih abu abu, Pram tidak se-pop itu. Cinta yang dimaksud disini adalah cinta yang menyenangkan sekaligus sangat tragis, seperti halnya pisau bermata dua.

Midah ditindas oleh orang yang tidak menghargai cinta. Orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri.. Nasip. Dia yang hidup dengan cinta, tapi juga dia yang disika olehnya. Midah si keras kepala dan berketetapan hati, memilih musik kroncong dari pada hidup hangat dipelukan kemapanan. Bagi kita itu sangat tidak masuk akal tapi bagi Midah yang sudah jatuh hati, pilihan itu adalah pilihan terbaik. Tapi tunggu dulu, tidak serta merta Midah membuang kehangantan pelukan kemapanan demi musik kroncong. Selalu ada sebab dibalik akibat begitu logikanya, dalam kasus ini karena Midah sudah patah hati. Dua kali patah hati, bayangkan ! pertama karena adiknya lahir ke dunia sehingga dia harus berbagi cinta dari orang tuanya, yang kedua karena dikhianati oleh suami yang main mata. Untuk sebab yang kedua ini jangan pikirkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam hal mendapatkan keadilan. Dipikiran masyarakat saat itu (1950an) hal tersebut tidak pernah terlintas. Kalau ada perselingkuhan, istri minggat dari rumah suami, maka yang disalahkan adalah sang istri yang tidak bisa memuaskan suami dan tidak setia. Begitu yang dipikirkan orang tuanya dan para tetangga. Aihh kejamnya orang pada Midah, bahkan sejak dalam pikiran Midah sudah diusahakan tewas.

Tapi apa boleh buat dari pada mati karena patah hati, lebih baik mati dengan menggenggam cinta. Begitu mungkin yang Midah pikirkan, dia minggat dari kemapanan yang sudah diterimanya, turun dia kejalan untuk meneruskan cita-citanya menjadi musisi keroncong. Mungkin kita berfikir apa yang dilakukan Midah adalah tindakan yang konyol dan tidak rasional; melepas kemapanan yang diberikan orang tua dan suami dan lebih memilih hidup dijalan bersama musik keroncong yang dicita-citakannya itu ? hah nonsense. Well boleh saja berfikir seperti itu tapi saya justru melihat kehebatan pada diri Midah, apa yang hebat ? Dia mampu memilih. Dia memilih untuk mengejar cita-citanya yang dalam hal ini dia memilih untuk merdeka. Walau Midah sepertinya tau merdeka artinya kesulitan karena harus meninggalkan kemapanan dan merdeka bisa juga menimbulkan kehinaan. Tapi dia tetap memilih untuk itu, memelihara diri dan hatinya adalah kebutuhan. Persetan dengan apa kata orang-orang toh dengan kaki sendiri dan dengan kemauan yang kuat dia mampu untuk terus berjalan dia menjalankan tanggungjawabnya sebagai manusia, yaitu memerdekakan ya langkah paling awal adalah memerdekakan diri sendiri.

Komentar